Bab 1: Muqaddimah Cinta & Secarik Penuh Makna
Setelah matahari muncul dan memancarkan radiasi sinarnya, bersama angin yang menyeimbangkan sengatan sinar matahari, saat itu terasa sangat sejuk bagi kota Bogor. Berada di samping karya monumental kebanggaan masyarakat Bogor, Kebun Raya. Terus melaju dengan mobil BMW X3-nya, menyusuri jalanan Lapangan Sempur yang rimbun, sambil mengenang masa lalu akan sebuah perjuangan dan awal perjalanannya.
"Pak, nanti kita mampir sebentar ke sop buah yang ada di Taman Kencana, ya," ujar Zaky, memecah keheningan dari ingatannya di masa lalu.
"Siap, Mas. Wah, tumben nih Mas Zaky beli es buah?" ujar Pak Priatna, sopir Zaky.
"Iya nih, Pak, tiba-tiba ingat ada sop buah yang terkenal di sini sejak zaman saya SMA dulu," jelas Zaky.
"Oh, kalau begitu biar saya saja yang turun, ya. Mas ingin pesan apa saja?" pinta Pak Priatna. Memang sejak awal, Zaky tidak ingin dipanggil tuan, melainkan Mas saja sudah cukup baginya.
"Enggak perlu, Pak. Biar saya saja yang turun, Bapak di mobil saja. Sekalian ingin gerakkan badan juga, hehe," jawab Zaky.
Di parkiran mobil, peluit penjaga parkir berbunyi nyaring. Zaky keluar dan menuju kedai sop buah tersebut. Dengan setelan kaus t-shirt dan jas casual-nya, dia menunjukkan strata sosialnya yang tinggi, namun dia tutupi dengan senyum dan sapanya yang ramah kepada setiap orang yang ditemui. Senyum hangat dengan mata terpejam menjadi ciri khasnya.
"Selamat siang dan selamat datang, Tuan. Ingin pesan apa?" sapa ramah pelayan itu.
"Siang dan Assalamualaikum, Mbak," jawab Zaky sembari memperagakan senyum khasnya.
"Oh iya, Wa'alaikum Salam. Ingin pesan apa, Tuan?"
"Saya ingin es buahnya dua, ya, Mbak. Ekstra susu dan pakai keju."
"Baik, Tuan. Ada lagi?"
"Saya rasa cukup, Mbak," jelas Zaky.
"Baik, sambil kami buat pesanan Tuan, bisa duduk di dalam."
"Iya, terima kasih," jawab Zaky sambil mengulang senyum khasnya.
Menuju ke dalam dan duduk di kedai tersebut, seolah otaknya memutar kembali sebuah memoar yang pernah dia alami di kedai itu. Secara fisik, desain interiornya memang berubah, namun atmosfer dan makna akan peristiwa itu seakan melekat di setiap inci lantai, tembok, dan tiang-tiangnya. Kedai itu seolah menjadi saksi awal perubahan dari diri seorang Zaky.
"Tuan, pesanannya," suara pelayan memecah keheningan.
"Oh iya, terima kasih, Mbak. Letakkan saja di sini," jawab Zaky kaget.
"Apakah ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya pelayan.
"Saya rasa cukup. Saya akan langsung ke kasir saja," jawab Zaky.
"Baik, terima kasih, Tuan, atas kunjungannya."
"Sama-sama, Mbak," kembali dia mempraktikkan senyum khasnya.
Zaky berjalan menuju mobil, sembari berdzikir dan mencoba melepas setiap kenangan di kedai itu. "Pak, sudah jadi nih, satu buat Bapak, satu lagi untuk saya. Kita makan sama-sama, ya!" ceria Zaky berbicara.
"Wah, terima kasih, Mas. Segar banget ini pasti," jawab Pak Priatna.
"Pasti, Pak. Sejak SMA lho saya tahu kedai ini. Monggo dilanjut, Pak."
Al-Ghifari, sebuah masjid di lingkungan kampus MB-IPB, yang sekarang dikenal sebagai SB-IPB (Sekolah Bisnis Institut Pertanian Bogor). Salah satu tempat bersejarah bagi Zaky, karena dia sempat menjalani dan menyelesaikan pendidikan S1-nya di sana.
Selepas menunaikan kewajibannya kepada Allah, dalam khusyuknya berzikir, "Astagfirullah, Astagfirullah...", kenangan di kedai itu menyeruak kembali ke dalam pikirannya. Seakan membawanya kembali ke masa itu bersama seorang sahabat yang pernah mengisi hatinya.
***
Siang itu di kedai Sop Buah
“Zaky, gak kerasa ya sebentar lagi kita sudah mau lulus.”
“Iya, Aisha. Hampir dua tahun ya kita sekelas, eh, udah mau pisah aja. Hehe.”
“Ky, ini ada buku, judulnya 'Udah Putusin Aja,' hadiah dari ibu aku. Dan ini yang bikin aku putus sama pacar aku, hehe.”
“Oh, ya?”
“Ky, sudah beberapa bulan kita dekat kan? Tapi Ky, aku nggak mau kita pacaran atau bahkan terlihat seperti pacaran.”
“Iya-iya..”
“Kita bersahabat, kan, Ky? Pasti, ya. Selepas pengumuman kelulusan besok, aku akan pergi ke Al-Azhar, Cairo, Mesir, Ky.”
“Lho, kok?” Zaky kaget.
“Stop. Jangan dipotong! Ky, mungkin ini yang terakhir. Tapi bisa aja ini awal, kan? Aku mau kamu jadi laki-laki baik, Ky.”
“Iiiiya…”
“Sekarang, keluarin kertas, dan tulis ya.”
“Iiiiya, Sha…”
“Tulis ya: 'Saya, yang bertanda tangan di bawah ini, Abdullah Zaky Ussamah, disaksikan oleh Allah, Malaikat-Nya, dan Sahabat terbaiknya, Aisha Humaira, berjanji untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, seraya menjalankan seluruh syariat Islam, selalu sholat duha, sholat tahajud, tilawah, dan sholat tepat waktu. Selelebihnya menyusul dan harus bertambah kegiatan baiknya!' Nah, terus kamu tanda tangan, ya.”
“Lho, untuk apa ini?”
“Ingat, laki-laki itu harus pegang omongannya, ya. Ini janji kamu, lho. Hehe. Oh ya, semua makanannya aku yang bayar! Anggap aja traktiran aku. Abis ini, kamu nggak boleh anter aku, ya. Kebetulan Pak sopir sudah jemput aku. Dadah, aku pamit! Assalamualaikum!”
“Eh, eh, tunggu, Aisha!!” Zaky tersentak.
Dengan cepat, Aisha keluar dan pergi meninggalkan Zaky dalam kebingungannya. Dia pikir ini hanya candaan seorang anak SMA yang baru lulus. Mungkin satu atau dua hari juga dia akan mengabari Zaky. Seminggu berlalu, sebulan, bahkan setahun, dering ponselnya tak pernah sekalipun membawa pesan dari sahabatnya, Aisha.
Sedikit banyak secarik kertas itu memberikan dampak positif bagi Zaky. Janji terhadap sosok sahabat yang ia damba begitu ia pegang dan jalankan. Hingga memotivasi dirinya untuk selalu menggali ilmu agama, meskipun ia memiliki kesibukan lain di masa kuliahnya dulu.
Waktu menunjukkan pukul 13:00, Pak Priatna nampak khusyuk dengan zikirnya hingga terbawa ke alam mimpi. Zaky segera bangun dari duduknya dan menghampiri Pak Priatna.
“Pak, bangun Pak!”
“Oh, enggih Mas, maaf saya ketiduran.”
“Boten nopo-nopo, Pak. Wes seger? Cuci muka dulu, aku ke mobil duluan, Pak.”
“Enggih, Mas.”
“Abis ini kita ke sekolah, ya Pak, jemput Dinda.”
“Siap, Pak!”
Kenangannya berlalu melihat sosok malaikat kecilnya berlari menghampirinya dengan senyuman ceria, seraya membawa keindahan surga dalam setiap lekuk bibir yang ia suguhkan kepada Abi-nya.
“Assalamualaikum, Abi!” seru Dinda.
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, malaikat kecil Abi, kok senang banget sih?”
“Iya dong, Abi. Dinda tadi dapat nilai 100, lho, Abi!”
“Wah, serius? Alhamdulillah! Kalau gitu, abis ini kita rayakan, ya! Kamu mau makan di mana, nak?”
“Gak ah! Aku maunya ke makam Bunda. Aku mau bilang aku dapat nilai terbaik di kelas, aku mau buat Bunda bangga, Abi.”
Jawaban sederhana dari seorang anak yang masih polos seakan menjadi katalis bagi hormon yang ada dalam tubuh Zaky untuk terus memproduksi kelenjar air mata hingga meluap keluar pelupuk matanya.
“Lho, kok Abi nangis? Dinda bikin Abi sedih, ya?”
“Tidak kok, nak. Kamu anak yang pintar dan shaliha, pasti Bunda bangga sama kamu. Ayo ke makam Bunda!”
“Yeey, ayo, Abi! Pak Pri, jalan jangan buru-buru dan jangan lama-lama juga, soalnya Dinda kangen sama Bunda.”
“Siap, Tuan Putri!” jawab sumringan Pak Pri.
Bersambung...
Jangan lupa berikan kritik serta sarannya di kolom komentar, ya :)

Mantep brooo
ReplyDeletesyukran brooo
DeleteWah bisa bikin cerita juga dia wkwk
ReplyDeleteWah bisa bikin cerita juga dia wkwk
ReplyDeletealhmdulillah bisa de hehe
Delete