Wayang for Education and Learning Indonesian Values (WAFEL-IV)
Hermawan Sulistio
"Kenakalan Remaja.", "Lagi, siswi SMA berantem sampai tendang-tendangan.", "Guru honorer di Sukabumi babak belur dihajar siswanya yang bolos.", "Kontrakan digerebek, polisi temukan kondom bekas 2 pasang ABG."[1]
Itulah sederet tagline dan judul berita di media online Indonesia. Maraknya berita-berita negatif mengenai perilaku remaja saat ini menjadi indikator bahwa telah terjadi penurunan nilai-nilai moral di kalangan remaja Indonesia.
Penurunan nilai moral di kalangan remaja terjadi karena banyak faktor, seperti kurangnya pemahaman agama serta nilai-nilai keindonesiaan yang sarat akan adat istiadat, sopan santun, dan tata krama yang luhur. Seharusnya, faktor-faktor yang menyebabkan penurunan nilai moral di kalangan remaja dapat ditekan dengan model pendidikan agama Islam yang selaras dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.
Maka dari itu, diperlukan sebuah model baru yang mengintegrasikan pendidikan agama Islam dengan nilai-nilai keindonesiaan. Kolaborasi antara keduanya akan menghasilkan model pendidikan yang proporsional dan sesuai dengan kebutuhan pendidikan agama Islam di Indonesia.
Sesungguhnya, model pendidikan agama Islam yang mengandung nilai-nilai keindonesiaan telah diciptakan oleh para pendahulu kita, yakni para wali Allah (baca: Wali Songo), yang menyebarkan ajaran Islam di Nusantara. Para wali Allah ini menggunakan budaya Indonesia sebagai media dakwahnya. Mereka menggabungkan nilai-nilai Islam yang dibawa dari tanah Arab dengan kebudayaan Indonesia sehingga dakwah Islam dapat diterima dengan baik dan mencapai tujuannya.
WAFEL-IV: Integrasi Wayang dalam Pendidikan Agama Islam
WAFEL-IV merupakan model baru yang mengintegrasikan pendidikan agama Islam dengan nilai-nilai keindonesiaan. Model ini menggunakan tokoh-tokoh pewayangan sebagai media interaktif untuk menciptakan kondisi belajar-mengajar yang kondusif serta secara tidak langsung menanamkan nilai-nilai keindonesiaan dalam praktik pembelajaran.
Model pembelajaran WAFEL-IV diperuntukkan bagi pendidikan agama Islam di tingkat sekolah dasar, di mana pada tahap ini diperlukan konsep pembelajaran yang lebih bersifat edutainment (pendidikan yang menghibur).
Dalam praktiknya, WAFEL-IV menerapkan sistem edutainment yang menarik, nyaman, serta menghibur bagi anak-anak. Penggunaan wayang sebagai media belajar di kelas, dikombinasikan dengan cerita-cerita legenda Nusantara yang dikaitkan dengan pendidikan agama Islam, akan membuat proses pembelajaran lebih efektif. Dengan demikian, tujuan penanaman nilai-nilai keindonesiaan dapat tercapai.
Saat ini, sangat diperlukan model baru dalam pendidikan agama Islam yang tidak hanya mampu mengajarkan ajaran Islam, tetapi juga dapat menanamkan nilai-nilai keindonesiaan pada karakter generasi muda. Oleh karena itu, model WAFEL-IV sangat penting diterapkan di tingkat sekolah dasar. Penanaman nilai-nilai agama dan kebangsaan sejak dini akan membentuk generasi yang lebih baik dan berkualitas bagi masa depan Indonesia.

Comments
Post a Comment