Seorang pemimpin organisasi besar yang memiliki pengaruh besar pada abad ke-20 lahir di desa Mahmudiyah, kawasan Buhairah, Mesir, pada 14 Oktober 1906 dan syahid di Kairo pada 12 Februari 1949. Beliau adalah Hasan Al-Banna, seorang guru dan reformis Mesir yang mendirikan organisasi Ikhwanul Muslimin (IM). Hasan Al-Banna kecil dikenal sebagai sosok yang cerdas dan memiliki daya ingat luar biasa. Hal ini dibuktikan dengan kemampuannya menghafal Al-Qur'an pada usia 14 tahun. Ia lulus dari sekolahnya dengan predikat terbaik, bahkan masuk dalam lima besar terbaik di seluruh Mesir. Pada usia 16 tahun, ia telah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi.
Keberhasilannya dalam menuntut ilmu tidak terlepas dari kemampuannya dalam memanfaatkan waktu secara disiplin. Sejak kecil, ia telah membagi waktunya menjadi empat bagian: siang hari digunakan untuk belajar di sekolah, sore hari membantu orang tuanya dalam membuat dan memperbaiki jam, menjelang malam ia mengulang pelajaran sekolah, dan selepas salat Subuh ia membaca serta menghafal Al-Qur'an. Dengan kedisiplinan seperti itu, tidak mengherankan jika ia mampu meraih prestasi gemilang di usia yang masih sangat muda.
Kecerdasan dan kejernihan pemikirannya juga tergambar dalam suatu peristiwa. Suatu hari, ketika Hasan kecil dan teman-temannya pulang dari madrasah, mereka melewati sebuah mushalla dan mendengar suara azan berkumandang. Mereka pun bergegas menuju kolam wudhu, namun tiba-tiba sang imam datang dan mengusir mereka dengan alasan takut air wudhu habis. Hampir semua anak pergi berlarian, tetapi Hasan kecil tetap tinggal. Ia lalu menuliskan sebuah surat kepada imam mushalla tersebut yang berisi kutipan ayat Al-Qur'an:
"Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya." (QS. Al-An'am: 52)
Mendapat surat tersebut, sang imam tersentuh dan akhirnya mengizinkan Hasan serta teman-temannya untuk selalu salat di mushalla tersebut selepas pulang dari madrasah. Sebagai bentuk tanggung jawab, Hasan dan teman-temannya pun sepakat untuk mengisi kembali kolam wudhu setelah selesai salat.
Pada usia 21 tahun, Hasan Al-Banna berhasil menyelesaikan studinya di Darul 'Ulum dan ditunjuk sebagai guru di Ismailiyah. Di kota inilah ia mulai menyaksikan secara langsung bagaimana bangsanya mengalami kemunduran akibat penjajahan Inggris dan runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani. Peristiwa ini menyebabkan kebingungan di kalangan umat Islam serta semakin meluasnya paham sekularisme di Mesir. Akibatnya, penjajah semakin leluasa bertindak terhadap Islam dan umatnya.
Menyadari situasi tersebut, Hasan Al-Banna mulai berdakwah secara perlahan. Ia memanfaatkan berbagai tempat, mulai dari kedai kopi, ruang kelas, hingga mimbar-mimbar masjid. Dengan penuh kesabaran, ia mengajak masyarakat untuk kembali kepada Islam. Dakwahnya yang konsisten akhirnya mulai diterima oleh masyarakat. Pada 20 Maret 1928, bersama enam orang temannya, Hasan Al-Banna mendirikan organisasi Ikhwanul Muslimin di kota Ismailiyah.
Dalam perjalanannya, Hasan Al-Banna menorehkan banyak prestasi bagi kemajuan umat Islam. Salah satu gagasan terbesarnya adalah konsep pendidikan berbasis Islam yang terbukti efektif dalam membangkitkan kembali kejayaan Islam.
Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan tersebut. Dukungan juga datang dari Hasan Al-Banna, yang telah lama menjalin hubungan dengan ulama-ulama Indonesia sejak masa penjajahan Belanda. Hubungan ini terlihat jelas melalui dua tokoh besar Indonesia, yaitu Hasyim Asy'ari dan Ahmad Dahlan, yang memiliki peranan penting dalam kemerdekaan Indonesia.
Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), menjalankan dakwahnya dengan mendirikan banyak pondok pesantren di berbagai daerah di Jawa. Pesantren-pesantren ini kemudian menjadi basis utama dalam pergerakan politik Islam di Indonesia. Sementara itu, Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah, sebuah organisasi yang berfokus pada pendidikan Islam melalui sekolah-sekolah formal.
Kedua ulama besar ini memiliki metode dakwah yang berbeda, tetapi sama-sama memberikan kontribusi besar bagi kemerdekaan Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa antara Hasan Al-Banna dan Indonesia terdapat ikatan yang kuat, baik dari segi perjuangan maupun dalam upaya membangun peradaban Islam yang lebih baik.


Comments
Post a Comment