Resume Buku Kisah Hidup Utsman Ibn Affan Karya Dr. Musthafa Murad(Guru Besar Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir)
Resume Biografi Tokoh
UTSMAN IBN AFFAN
Hermawan Sulistio
Khalifah yang terbunuh dan teraniaya itu adalah khalifah ketika umat Islam setelah Abu Bakar r.a. dan Umar ibn Khattab r.a. Dialah Utsman ibn Affan ibn Abi al-Ash ibn Umayyah ibn Abdi Syams ibn Abdi Manaf r.a. Nasabnya bertemu dengan Nabi pada kakek yang keempat, yaitu Abdu Manaf. Dari sisi ibu, nasab keduanya bertemu pada Urwa bint Kariz. Ibunda Urwa, yaitu bint Abdul Muthalib, adalah bibi Rasulullah.
Di zaman jahiliah, ia disebut Abu Amr, dan setelah masuk Islam, ia dipanggil dengan "Abu Abdullah," yang diambil dari nama putranya dengan Ruqayyah binti Rasulullah. Beberapa panggilannya di zaman jahiliah adalah Abu Layla, karena kelembutan dan keramahannya. Namun, julukan yang paling terkenal untuknya adalah Dzunnurain, yang berarti Sang Pemilik Dua Cahaya. Julukan itu diberikan sendiri oleh junjungannya yang mulia, Rasulullah SAW. Ia mendapat julukan tersebut karena menikahi dua putri Nabi, yaitu Ruqayyah r.a. dan Ummu Kultsum r.a.
Utsman ibn Affan lahir enam tahun setelah Tahun Gajah, tepatnya pada 47 S.H. Usianya enam tahun lebih muda daripada Rasulullah SAW. Ia lahir di Taif, daerah yang subur di kawasan Hijaz.
Layaknya anak-anak yang lahir dan tumbuh di Jazirah Arab, Utsman ibn Affan dibesarkan dalam lingkungan budaya dan kehidupan masyarakat yang diliputi kebodohan serta kesesatan. Namun, jalan hidupnya berubah ketika hatinya dipenuhi perasaan cinta kepada putri Rasulullah SAW, Ruqayyah r.a., serta karena kejujuran Rasulullah SAW. Namun, angan-angannya untuk membangun rumah tangga bersama Ruqayyah r.a. pupus, karena gadis pujaannya itu akan dinikahkan dengan putra Abu Lahab. Ia menyesal karena tidak dapat menjadikan Ruqayyah sebagai pendamping hidupnya. Ia pulang dengan hati yang penuh kesedihan dan wajah yang murung.
Setibanya di rumah, ia bertemu dengan bibinya, Su’da bint Kariz, yang dikenal bijak, tegas, dan cerdas. Bibinya menghiburnya dan memberitahunya tentang kemunculan seorang nabi yang menyerukan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menghapuskan penyembahan berhala. Ia membujuk Utsman untuk mengikuti nabi itu, seraya meyakinkannya bahwa ia akan mendapatkan apa yang diinginkan.
Ucapan bibinya terus bergelayut dalam pikirannya. Kebingungan dan keraguan melandanya, sebab bibinya menganjurkan dirinya untuk mengikuti agama baru yang hanya menyembah Tuhan yang satu serta meninggalkan penyembahan berhala. Padahal, sejak lama, menyembah berhala telah menjadi kebiasaan masyarakat Arab. Ia pun meninggalkan rumah, pikirannya melayang, merenungkan perkataan bibinya. Ia menemui Abu Bakar dan menyampaikan apa yang dikatakan bibinya.
Abu Bakar berkata, "Perkataan bibimu dan kabar yang disampaikannya itu benar, wahai Utsman. Kau laki-laki yang cerdas, pandai, dan bijaksana. Kebenaran tidak akan tersembunyi darimu dan tidak akan dibiaskan oleh kebatilan. Tidakkah kau perhatikan berhala-berhala yang disembah oleh kaum kita ini? Bukankah mereka hanyalah bebatuan yang bisu, tuli, dan buta?"
Setelah kejadian ini, Utsman meminta kepada Ali untuk diantarkan kepada Rasulullah. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengucapkan dua kalimat syahadat dengan suara lantang.
Khalifah yang Lembut dan Dermawan
Utsman adalah seorang khalifah yang takut kepada Allah. Ia dikenal sebagai pemimpin yang lembut, pemaaf, dan dermawan. Harta yang berlimpah dan kekuasaan besar tidak sedikit pun membuatnya sombong dan angkuh. Sebaliknya, ia senantiasa menjaga kemuliaan akhlaknya sehingga tetap tampil sebagai pribadi yang bersahaja. Bahkan, hal itu menjadikannya sebagai hamba yang sangat takut, khawatir, dan bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya.
Utsman meneladani junjungannya, Rasulullah SAW, sehingga ia tumbuh menjadi pribadi yang lembut kepada sesama mukmin. Hatinya selalu tersentuh menyaksikan keadaan mereka. Ia selalu berusaha membantu kesulitan yang mereka hadapi serta menghilangkan kesedihan mereka.
Kala Menjabat sebagai Khalifah
Sebelum meninggal, Khalifah Umar telah memilih enam orang untuk menjadi penggantinya dalam kekhalifahan berikutnya. Akhirnya, kaum muslimin pun bersepakat membaiat Utsman ibn Affan sebagai khalifah ketiga setelah Abu Bakar al-Shiddiq r.a. dan Umar ibn Khattab r.a.
Khalifah Umar berhasil menciptakan stabilitas sosial dan politik di dalam negeri, sehingga ia dapat membagi perhatiannya untuk memperluas wilayah Islam. Ketika Utsman menjabat sebagai khalifah, ia meneruskan sebagian besar garis politik Umar. Ia melakukan berbagai ekspedisi baru untuk mendapatkan wilayah-wilayah baru.
Tragedi di Hari Jumat, Zulhijah 35 H
Utsman sedang membaca Al-Qur'an ketika beberapa orang merangsek masuk ke kamarnya. Mushaf Al-Qur'an yang suci tampak terbuka di hadapannya. Para durjana itu memaksanya menghentikan qiraat. Tiba-tiba, salah seorang dari mereka meloncat ke hadapan Utsman dan berteriak, "Antara aku dan Kitabullah," seraya menebaskan pedang. Utsman menangkis sabetan itu hingga tangannya terbabat putus.
Seorang durjana maju dan menyabetkan pedangnya. Nailah binti al-Farasah, yang berdiri di dekat Utsman, menangkap sabetan pedang itu hingga jari-jarinya terputus. Orang itu kembali mengayunkan pedangnya ke arah perut Utsman. Lalu, Kinanah ibn Basyar maju dan memukul keningnya dengan sepotong besi. Utsman ibn Affan jatuh tersungkur. Darah suci membasahi bumi.
Kemudian, Sawdan ibn Hamran al-Maradi memukul dan membunuhnya. Terakhir, seorang bernama Amr ibn al-Hamq melompat ke atas tubuh Utsman, lalu menduduki dadanya dan menghujamkan senjatanya tujuh kali.
Wajah Utsman ibn Affan tampak tersenyum bahagia. Kini, rasa rindunya kepada junjungannya yang terkasih, Rasulullah Muhammad, segera terobati. Sekian lama ia merindukan saat-saat perjumpaan dengan Rasulullah, juga dengan kedua putrinya yang mulia, Ruqayyah r.a. dan Ummu Kultsum r.a. Hari demi hari, hasrat akan perjumpaan itu semakin menguat. Akhirnya, pada hari itu, ia akan segera bertemu dengan mereka semua.
Selesai.

Comments
Post a Comment