Skip to main content

Semesta Ibu


Untuk Ibu, di Hari Lahirnya

Hari ini, 28 Oktober, pahlawan sejati telah lahir—hampir setengah abad yang lalu. Seorang sosok mulia, yang ridhanya adalah ridha Allah dan murkanya adalah murka-Nya. Sosok yang begitu indah hingga surga pun ditempatkan di bawah telapak kakinya. Sosok yang kelembutannya begitu besar, hingga sekadar ucapan "Ah" kepadanya pun menjadi dosa. Dialah lambang kesabaran, cinta, dan kasih sayang, hingga kehadirannya menciptakan sebuah peradaban.

Hampir setengah abad telah ia lalui, merasakan manis, pahit, asam, dan getir kehidupan. Ia membesarkan seorang anak yang sering kali begitu merepotkan. Ia rela mengorbankan waktu tidurnya demi menenangkan tangisan sang buah hati di tengah malam. Dengan penuh kasih sayang, ia menyusuinya hingga terlelap. Dan saat si kecil kembali terbangun karena pakaian yang basah, ia dengan sabar menggantinya dengan pakaian yang bersih dan nyaman.

Ibu, hari ini adalah hari lahirmu.

Tak pernah sekalipun engkau meminta balasan atas semua jasamu. Jika malaikat disandingkan denganmu, mungkin mereka akan merasa malu karena kasih sayang dan pengorbananmu begitu besar.

Ibu, semoga Allah selalu merahmati dan memberkahi usiamu. Semoga engkau diberikan umur yang panjang dan dapat melihat anak-anakmu tumbuh menjadi pribadi yang sukses, hebat, dan mapan. Semoga kelak engkau bisa menimang cucu-cucu dari mereka, dan menikmati hari-hari tua dengan kebahagiaan.

Sekiranya kayu di seluruh bumi dijadikan pena, dan lautan menjadi tintanya, maka itu pun tak akan cukup untuk menuliskan seluruh nikmat yang Allah berikan kepadamu. Demikian pula, tak ada ungkapan yang cukup untuk membalas segala jasamu, Ibu.

Barakallah fii umrik, Ibu.
Semoga Allah selalu melindungimu dan menghadiahimu anak-anak yang saleh dan salehah.

Maafkan anakmu yang lahir 20 tahun lalu ini, yang hingga kini belum mampu memberikan kebahagiaan dan kebanggaan yang layak untukmu. Namun, dengan segenap hati, aku berjanji akan terus berusaha menjadi anak yang dapat membuatmu tersenyum bangga.

Aku mencintaimu, Ibu. 💖

Comments

Popular posts from this blog

Memaknai Masa Lalu & Mempersiapkan yang Terbaik Untuk Masa Depan Oleh Hermawan Sulistio

Tulisan ini memiliki pesan yang sangat inspiratif dan motivasional, terutama dalam menyikapi pergantian tahun dengan refleksi dan perencanaan yang lebih baik. Namun, ada beberapa perbaikan yang bisa dilakukan untuk meningkatkan keterbacaan, memperbaiki ejaan, serta menyusun ulang beberapa bagian agar lebih jelas dan mudah dipahami. Berikut adalah revisi yang lebih rapi, tetap mempertahankan esensi tulisan, tetapi dengan bahasa yang lebih mengalir dan profesional: Memaknai Pergantian Tahun dengan Refleksi dan Resolusi “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-'Asr: 1-3) Pergantian tahun selalu menjadi momen spesial. Ada banyak cara yang bisa kita pilih untuk merayakannya—mulai dari mengikuti pesta tahun baru yang mungkin hanya memberikan sedikit manfaat, atau justru memanfaatkannya dengan refleksi mendalam untuk menata masa depa...

Arrahma; Catatan Perjalanan & Hijrah

Bab 1: Muqaddimah Cinta & Secarik Penuh Makna Setelah matahari muncul dan memancarkan radiasi sinarnya, bersama angin yang menyeimbangkan sengatan sinar matahari, saat itu terasa sangat sejuk bagi kota Bogor. Berada di samping karya monumental kebanggaan masyarakat Bogor, Kebun Raya. Terus melaju dengan mobil BMW X3-nya, menyusuri jalanan Lapangan Sempur yang rimbun, sambil mengenang masa lalu akan sebuah perjuangan dan awal perjalanannya. "Pak, nanti kita mampir sebentar ke sop buah yang ada di Taman Kencana, ya," ujar Zaky, memecah keheningan dari ingatannya di masa lalu. "Siap, Mas. Wah, tumben nih Mas Zaky beli es buah?" ujar Pak Priatna, sopir Zaky. "Iya nih, Pak, tiba-tiba ingat ada sop buah yang terkenal di sini sejak zaman saya SMA dulu," jelas Zaky. "Oh, kalau begitu biar saya saja yang turun, ya. Mas ingin pesan apa saja?" pinta Pak Priatna. Memang sejak awal, Zaky tidak ingin dipanggil tuan, melainkan Mas saja sudah cukup b...

TJIE KKN, Tips dan Trik dari yang pernah nyobain KKN.

CIE KKN Hallo para mahasiswa khususnya teman-teman di Univ. Trilogi yang sedang mempersiapkan diri untuk mengabdi di masyarakat bareng program KKN 2018. Jadi akhir-akhir ini DM IG gue di ramaikan pertanyaan   tentang KKN gue dulu. mulai dari nanya KKN di mana, apa aja dan berapa prokernya, gimana bisa buat KKN yang heboh dan apa aja tips-tipsnya dan kemarin setelah pulang kantor coba sempetin ke kampus buat ambil foto wisuda tapi malah bablas cerita dan sharing ngalor ngidul sama anak-anak Assalam buat KKN nanti. Akhirnya gue putuskan untuk share di blog ini agar semuanya bisa akses :) Sebelum lebih jauh lagi cerita, gue mau ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya sama Kelompok Cakra Nusantara, Galih, Ica, Desi, Desti, Mbah, Kak Tasya dan Indri yang udah bikin Tim ini jadi super-duper Ketjeh. 😊 Oke jadi KKN adalah momen-momen yang paling gue tunggu karena menurut gue itu bakalan asyique banget, karena lu bakalan full di terjunin ke masyarakat buat tau apa sih ya...