Assalamualaikum teman-teman, alhamdulillah, cerita ini sudah terupdate lagi nih :) Bagi teman-teman yang baru membaca ceritanya, bisa membaca cerita sebelumnya Nah, langsung saja, nikmati ceritanya ya!
Sepeninggal istrinya, Zaky kerap terlihat murung, bahkan senyuman khasnya itu tidak mampu lagi membungkus kesedihan hati seorang suami yang ditinggal selamanya oleh istri tercintanya. Belum genap berumur 30 tahun, Zaky telah menjadi seorang single parent akibat penyakit kanker yang diderita istrinya. Zaky menikah di usia yang masih terbilang muda, yakni 24 tahun, dengan seorang wanita shalihah yang ia kenal saat menempuh pendidikan master di University of Queensland, Australia.
Selama menempuh pendidikan master di UQ, Zaky aktif sebagai ketua Perhimpunan Pelajar Australia dan juga anggota Muslim Student Association (MSA) di University of Queensland. Zaky dikenal sebagai sosok orator ulung dengan gagasan-gagasannya dan impiannya. Setiap kali diberi kesempatan berbicara di forum, suasana seakan hening dan penuh kekhusyukan. Ketika ia melontarkan kalimat-kalimat motivasi, gairah dan semangat orang-orang yang mendengarnya mencapai titik maksimal, bagaikan letusan gunung Krakatau yang dahsyat, hingga mengacaukan iklim bumi di masanya. Hal ini terbukti saat ia menyampaikan pidatonya di hadapan parlemen Australia sebagai perwakilan Muslim Student Association University of Queensland terkait diskriminasi yang sering dialami umat Islam di Australia pasca tragedi 9/11.
Suaranya yang lantang menggema sebagai tanda bahwa umat Islam bukanlah umat yang lemah dan tidak bisa diperlakukan semena-mena hanya karena perbuatan sekelompok oknum yang mengatasnamakan Islam. Ia sekaligus mengingatkan khalayak bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan cinta kasih, kedamaian, dan tidak pernah mengajarkan kebencian, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat An-Nahl ayat 90:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia (Allah) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
Sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir mengenai ayat di atas, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berbuat adil, yaitu mengambil sikap dengan keseimbangan, serta menganjurkan untuk berbuat kebaikan. Ini sejalan dengan firman-Nya yang lain:
“Dan balasan kejahatan adalah kejahatan yang serupa, barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas tanggungan Allah SWT.” (QS: Asy-Syuura:40)
Firman Allah yang lainnya, “… memberi bantuan kepada kerabat…” mengandung makna menyambung tali silaturahmi, sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin, dan kepada orang yang sedang dalam perjalanan serta jangan berbuat mubazir.” (QS: Al-Isra:26)
Kemudian firman-Nya, “…dan Dia (Allah) melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran…” menggambarkan bahwa kemungkaran adalah suatu perbuatan haram yang dilakukan oleh seseorang, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, sebagaimana firman-Nya:
Ayat-ayat ini menggambarkan bahwa Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan berbuat kebajikan, serta mengharamkan perbuatan keji dan kedzaliman. Firman Allah SWT lainnya juga mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kehidupan:
“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. al-Ma'idah: 32)
Sungguh ayat di atas menggambarkan bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Bahkan membunuh seorang manusia sama dengan membunuh seluruh umat manusia. Zaky merasa bersyukur terlahir sebagai seorang Muslim, meski terkadang hatinya sedih atas perlakuan orang-orang yang awam terhadap umat Muslim, yang sering kali mendapatkan informasi yang tidak jujur mengenai Islam. Sejak pidato tersebut, usaha Zaky dalam mencerdaskan dan menyebarkan pemahaman Islam di Queensland hampir dapat diterima dengan baik. Oleh karena itu, layaklah Zaky menyandang nama Usammah di belakang namanya, gagah dan berani seperti singa meski hanya dengan kata-katanya.
Zaky juga seorang entrepreneur yang hebat. Meskipun datang ke Australia dengan beasiswa penuh, hal itu tidak menjadikannya berleha-leha dan menggantungkan segala kebutuhannya pada beasiswa tersebut. Ia seorang yang mandiri dan tidak ingin menggantungkan hidupnya pada orang lain, kecuali pada dirinya sendiri dan Allah SWT. Selagi mampu, ia akan berusaha semaksimal mungkin. Itu adalah hasil dari pemahamannya terhadap makna Syahadatain, yang selalu teringat ketika ustadznya menyampaikan kandungan-kandungan dari syahadat.
Berawal dari ilmu bisnis yang ia dapatkan selama pendidikan di Indonesia, Zaky sukses menjadi entrepreneur di bidang kuliner dengan mendirikan restoran khas masakan Indonesia, Indonesian Food Heritage. Usahanya bermula dari menjual pecel di sebuah stand bazaar hingga bertemu dengan seorang investor yang akhirnya membantunya mendirikan restoran tersebut.
Zaky selalu mencontoh Nabi Muhammad SAW. Mulanya, Nabi adalah seorang pedagang di bidang ekspor-impor (jika disetarakan dengan zaman sekarang). Tidak hanya mencontoh dari segi profesi, Zaky juga menerapkan akhlak dan perilaku Rasulullah SAW. Hal ini membuat investor pun merasa senang dan percaya saat berbisnis dengannya. Semua perilaku dan ilmunya didapatkan dari pembelajaran kitab Kholasoh (ringkasan sirah Nabi) dan sirah nabawi yang ia pelajari saat mondok di Krapyak. Begitu indah bagi Zaky memiliki banyak guru dan ilmu yang membuatnya semakin teduh dan rendah hati.
Saat itu, Zaky telah menyelesaikan studi masternya di Australia, namun masih menetap selama satu tahun karena harus mengurus dan mengelola bisnis restorannya. Di sana, ia bertemu dengan seorang wanita shalihah, Adiba Shakila Utami, seorang mahasiswi asal Sumatera Barat yang menyelesaikan studi S1 kedokterannya di Universitas Indonesia dan melanjutkan master di UQ. Setelah yakin dari segi mental dan finansial, Zaky memberanikan diri untuk menghubungi Syaikh di lingkungan Muslim Student Association University of Queensland. Ia menceritakan keinginannya untuk segera menikahi Adiba.
Pada suatu pagi di akhir pekan, sebagai rutinitas, Muslim Student Association University of Queensland (MSA UQ) mengadakan kajian mingguan. Kebetulan kali ini pengisinya adalah Syaikh Abdullah Azzam, yang membahas tentang keutamaan menikah dan menjauhi zina, serta etika dan fiqh dalam pernikahan.
Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:
“Menikah itu adalah bagian dari sunnahku. Karena itu, barangsiapa yang menyukai fitrahku (kebiasaanku), hendaklah ia mengikuti sunnahku.” (HR Ibnu Majah).
Selepas kajian tersebut, Syaikh Abdullah meminta kepada seorang muridnya untuk memanggil seorang mahasiswi asal Indonesia bernama Adiba Shakila.
“Apakah kamu yang bernama Adiba?” tanya Syaikh.
“Betul, Syaikh, saya Adiba. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Adiba.
“Nama yang indah, serta perangainya. Apakah malam ini kamu sibuk?” tanya Syaikh.
“Sepertinya tidak, karena ini akhir pekan,” jawab Adiba.
“Mahabesar Allah, jika kamu berkenan, saya ingin mengundangmu untuk makan malam malam ini.”
“Dalam rangka apa, Syaikh?” tanya Adiba.
“Insya Allah, dalam rangka kebaikan, dan sebagai anjuran bagi kita untuk bersilaturahmi sesama umat Muslim.” Syaikh tersenyum.
“Baik, Syaikh, saya sangat bahagia diundang makan malam bersama seorang ulama shalih.”
“Aamiin, semoga Allah menjadikanmu seorang wanita shalihah dan kelak mendapatkan sosok pria shalih juga. Nanti ajak satu atau dua teman perempuanmu, agar kamu tidak sendirian. Kita makan malam bersama di restoran Indonesian Food Heritage.”
“Aamiin, terima kasih, Syaikh.”
Sore itu, Adiba tampak anggun dengan kerudung kh
imar dan pakaian muslimah yang menutupi tubuhnya dengan sempurna. Zaky sudah menunggu di restoran tersebut, dan keduanya mulai menikmati hidangan, dengan ditemani oleh teman-temannya. Syaikh Abdullah terlihat mengobrol ringan dengan mereka.
Beberapa bulan setelah itu, Adiba berkata kepada Zaky, “Akhi, saya ingin berbicara dengan serius. Kalau kamu serius ingin melamar saya, kamu harus menemui orangtua saya.”
Zaky tersenyum mendengar kata-kata itu dan segera menghubungi orangtua Adiba yang berada di Sumatera Barat. Setelah menikah, Zaky dan Adiba merasa bahagia, meskipun perjalanan mereka menuju pernikahan tidak mudah. Segala pencapaian yang Zaky dapatkan, baik dalam bidang pendidikan, organisasi, dan bisnis, tidak lepas dari izin Allah SWT yang mengarahkannya pada kebaikan yang lebih besar.
Namun, takdir berkata lain. Setahun setelah pernikahan mereka, Adiba didiagnosa mengidap kanker ganas yang menyerang tubuhnya. Dalam perjuangan melawan penyakit tersebut, Adiba bertahan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Selama masa-masa itu, Zaky selalu berada di sisi istrinya, memberikan dukungan moral dan spiritual.
Adiba akhirnya meninggal dunia setelah bertahun-tahun berjuang. Zaky merasa kehilangan, namun ia tahu bahwa ini adalah takdir dari Allah SWT yang harus diterima dengan ikhlas.
Kini, Zaky mengabdikan dirinya untuk anak-anak yang ditinggalkan oleh orangtua mereka, dengan mendirikan yayasan untuk membantu mereka dalam pendidikan dan pengembangan diri. Meskipun hatinya terluka, Zaky terus melangkah dengan harapan, dengan senyum yang tetap menghadap pada masa depan.

MasyaAllah ceritanya berbobot islami 👍
ReplyDeleteInsyaAllah, meski hanya sedikit yang bisa saya sampaikan. terimaksih
Deletesaran kak, kalo ceritanya bersambung gitu memding juga di upload ke wattpad
ReplyDeletewattpad itu apa, salmah? hehe
DeleteMasya'Alloh..
ReplyDeleteSaran ya,kak :: sebelum di publish, sebaik'nya di baca ulang.. Ini yang masih jadi persoalan yang masih sering aku temui di beberapa tulisan kakak pada blog.. Karena aku lihat, ada beberapa kekurangan dari segi penulisan (abjad dan pemenggalan kata yang kurang rapi dan tanda baca yang kurang agar tulisan itu terkesan lebih hidup)..
~semoga segera terselesaikan ya kak, kelanjutan cerita'nya..
wah makasih ya sarannya, memang belum faham betul dengan stadar penulisan yang benar. insyaAllah kedepannya di perbaiki. maksih
Deletewah makasih ya sarannya, memang belum faham betul dengan stadar penulisan yang benar. insyaAllah kedepannya di perbaiki. maksih
DeleteSama², kak..
DeleteMasyaAllah, membungkus dakwah dengan alur cerita yang bagus. Sarannya lebih rajin riset akan latar tempat yg d gunakan (read UQ) kayanya selain bisa nambah pengetahuan akan kebudayaan jg bikin ceritanya lbh berasa hidup. Sukses sllu ya Tio. Amiin
ReplyDelete