MWNS13
Well
Assalamualaikum warahamtullah, Hello. Ketemu lagi sama saya bloger paruh waktu
hehe, alhamdulillah ada waktu senggang di semester 7 ini yang literally gua lagi
sibuk-sibuknya skripsian, oya mohon doanya nya untuk kelancaran skripsian gua,
insyaAllah semester 7 lulus, Aamiin :) . Kali ini dalam tulisan ini dan di blog
ini juga gua akan membuat sebuah conten yang isinya opini-opini gua terhadap suatu
fenomena, kejadian, dan apapun itu yang menurut gua and other people penting
dan berfaedah untuk di bahas (doakan smeoga berlanjut wkwk ). so what will we
discuss in this blog right now? Kali ini gua akan beropini tentang fenomena
eklusif dan inklusif yang ada di kehidupan kampus.
Mungkin
gua disini akan sedikit membahas dari sudut pandang organisasi keislaman kali
ya? As we know I was a chairman of the Islamic organization on campus. Dulu saat
menjadi ketua, saat ghirah ke Islaman
lagi maximum bgt (semoga sekarang masi) semua pemikiran, perbuatan dan
keputusan gua selalu berorientasi pada nilai-nilai islam yang kental (terkadang
aga kaku) dan selalu berfikir tentang bagaimana cara menjadikan orang-orang di
sekitar menjadi lebih Islami seperti yang tadinya belum shalat menjadi shalat
yang belum ngaji jadi ngaji dan kebaikan-kebaikan lainnya. Well overall itu
semua bagus, bagus banget bahkan dan saat itu (saat jadi pengurus) adalah saat
saat terbaik dalam hidup gua dengan niat mulia di dalamnya yang pernah gua
alami.
But sometimes,
semangat yang meladak-ledak saat itu terkadang menjadikan kita melupakan blind
spot yang di miliki oleh setiap entitas, individu, kelompok dan organisasi. Pernah
dalam sebuah diskusi random bareng temen-temen penerima beasiswa Laznas BSM
seseorang nyeletuk “kenapa sih, anak-anak organisasi keislaman itu sangat
ekslusif sekali? Katanya mau dakwah? Kok malah bikin dinding sendiri antara
yang mau di dakwahi?”. Saat itu yang lliterally gua masi bocah banget gua
langsung balas dengan argumen-argumen base kegiatan yang gua lakukan di
organisasi yang gua pimpin kala itu. But the result? Masi dianggap belum
menjawab pertanyaannya dan akhirnya gua kesel sendiri wkwk. tapi pada akhirnya
gua menemukan jawabannya sendiri. saat itu gua berada di titik jenuh dengan
segala aktifitas organiasi yang saat itu gua sudah demisioner, saat itu lagi
hot banget isu-isu politik dan saat itu gua merasa tidak menemukan kebebasan
dalam beropini base data dan temuan-temuan yang gua dapatkan dari sudut pandang
lain. Gua coba alternatif lain tapi gak
ketemu haha. Tapi pada akhirnya gua masuk lingkungan Pondok (bersyukur sekali
bisa masuk Pondok :’)) yang mana gua menemukan banyak jawaban-jawaban atas
pertanyaan gua di fase-fase sebelumnya.
Setelah
masuk lingkungan pondok, melihat fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan
organisasi keislaman kampus, mendapat asupan pemikiran yang wise dari ulama-ulama, gua merasa bersalah sekali atas apa yang gua
lakukan di kepengurusan gua dulu. Inget harus di garis bawahi ya! Gua merasa bersalah bukan karena
produk-produk dan kegiatan yang di keluarkan oleh organiasi saya saat itu. Tapi
gua merasa bersalah gua melupakan mereka yang menurut gua perlu di dakwahi namun
gua menggunakan metode-metode yang gak tepat sehingga mereka merasa
terintimidasi dan akhirnya merasa it’s not may way dan memilih menjauh.
Semoga kita tidak dijadikan orang-orang yagn menhambat datangnya hidayah yaa.
Saat itu
gua, cenderung berfikir konservatif dan melupakan esensi dakwah itu sendiri dan
pada titik waktu tertentu menciptakan sebuah ke-ekslusifan di lingkungan
kampus. Bertahun tahun gua mikirin cara buat menangkal ini si ke-ekslusifan
tertnyata method dan approach yang gua lakukan malah membangun dinding
ke-ekslusifan itu sendiri. wow! Jadi yang di maksud temen gua dalam
pertanyaannya itu adalah “kok yang di dakwahi yang mau di ajak aja? Dalam artinya
yang mau masuk lingkungan kalian aja baru kalian dakwahi?” atau kasarnya yang
di dakwahi kok yang di rekrut saja? deer!(biar kaya kemal wkwk) iya juga sih
yaa dan ternyata temen gua yang nanya itu pernah ada di lingkungan yang sama
juga. Dalam kacamata gua saat ini apa-apa yang di lakukan oleh teman-teman di
organiasi keislaman di manapun adalah 100% niatnya baik dan lillahitaala, mana
ada sih yang jahat ngajak orang buat solat dan ngaji? I think big no! Tapi terkadang
kita sering lupa pada esensi dakwah itu sendiri, kita lebih memilih untuk
menjadikan mereka anggota kita dulu baru kita dakwahi dengna metode yang kita
miliki, bukan kita yang turun ke mereka lalu kita yang menyesuaikan dengan
mereka. (well meski gua tau masing-masing kelompok menafsirkan esensi dan
konsep dakwah ini berbeda2). Sampai pada titik gua berfikir bahwa Rokok, Kopi
dan Tongkrongan itu lebih efektif buat gua berbaur sama mereka dan mamasukan sedikit
nilai Islam di dalamnya. FYI gua bukan perokok tapi soal kopi banget. Pernah waktu
itu lagi main dan kumpul kumpul tongkrongan tiba-tiba ada yang nanya cara solat
dan akhirnya mereka sendirilah yang kepo dan ingin jadi baik. Hehe. Pada dasarnya
kita terkdang menjadikan islam sesuatu yang kaku, yang sulit di terima oleh
kalangan orang banyak. Kita terlalu menjustifikasi bahwa setiap orang, individu
atau kelompok itu dapat di perlakukan dengan cara yang sama padahal
masing-masing dari mereka punya background, pandangan, persepsi, atau bahkan
trauma yang berbeda-beda. Bahkah terkadang utuk yang sudah kita rekrut saja
kita sulit untuk mengerti bahwa mereka masi berproses sedikit demi sedikit
setidaknya untuk bisa seperti dengan orang-orang di lingkungan barunya
tersebut. Ya itulah akibatnya kalau kita terlampau memahami Islam sebatas
bentuk, wujud dan fisik bukan sebagai Nilai-nilai agung tentang toleransi,
pemahaman, memafkan, cinta kasih dan hal-hal agung lainnya.
Kita
terlalu menutup diri dari pandangan-pandangan orang lain, kita cenderung
memilih informasi hingga ilmu dari yang se pemikiran saja atau yang se agama
saja. padahal sekelas Sulaiman Al-Qanun seorang sultan dari khilafah utsmani
saja meyukasi filsuf-filsuf yunani. yang pada akhirnya menjadikan kita sosok
yang kurang bijaksana dalam meyikapi
suatu hal tertentu. Gua punya perinsip bahwa segala sesuatu itu pasti memiliki
dimensi, minimal 1 - 3 dimensi jadi jangan terlalu cepat menyimpulkan dari satu
dimensi saja, masi ada 2 bahkan dimensi-dimensi lain yang belum kita ketahui.
Well pada
dasarnya Nabi Muhammad pun di utus bukan untuk di mengerti, tapi untuk membuat
mereka mengerti. Jadi kalau kamu rasa kamu punya kebaikan yang hendak kamu
sampaikan maka jangan cuman mau di ngertiin dengan memaksan lingkungan untuk
menerima apa ayng kamu bawa. Yaa ini hanya opini gua yaa. Tapi insyaAllah pasti
ada baiknya. Kalau ada buruknya sampaikan baik-baik sama saya yaa. Kalau ga
enak saya kasi kucing hehe..
Wassalamualaikum
warahmatullah.
InsyaAllah akan saya lanjutkan, doakan semoga bisa melanjutkan yaa..
jangan lupa Follow
IG: hermawansulistio13
FB: Hermawan Sulistio
Line: hermawansulistio
jangan lupa berikan kritik serta sarannya di kolom komentar ya :)
Tulisannya menarik. Tapi, banyak typo nya. Mungkin next, nulisnya lebih santai lagi...
ReplyDeletewah makasih ratu. iya nih Typo seperti jadi cirikhas hehe. saya sendiri tipe orang yang males review tulisan saya (re: ga teliti). tapi makasih buat masukannya :)
Delete