Tiga hari sudah kita meninggalkan bulan suci Ramadan, bulan penuh keberkahan yang Allah berikan kepada manusia. Dewasa ini, kita semakin menyadari bahwa melepas Ramadan adalah hal yang menyedihkan, baik karena kurang maksimalnya ibadah maupun karena kesadaran bahwa kita belum tentu akan bertemu kembali dengan Ramadan tahun depan. Satu hal yang saya ingat dari perkataan istri saya adalah, "Selama Ramadan, setan itu dibelenggu Allah. Jadi, kalau kita masih malas beribadah di bulan suci ini, itu sebenarnya bukan godaan, melainkan tabiat dan kebiasaan kita sendiri." Oleh karena itu, memaknai kepergian bulan Ramadan berarti perjuangan tiada henti untuk mengubah tabiat dan kebiasaan buruk, ditambah dengan menghadapi godaan setan. Semoga Allah memberikan kita keistiqomahan dalam beribadah kepada-Nya. Aamiin.
Sebelum lebih jauh, penulis ingin menegaskan bahwa tulisan ini tidak bermaksud untuk menggurui. Artikel ini murni berasal dari sudut pandang serta pengalaman pribadi penulis. Semoga ada manfaat yang bisa diambil, dan mohon maaf apabila terdapat hal yang kurang berkenan.
Syawal dan Pernikahan
Merayakan Syawal dengan penuh suka cita telah menjadi budaya di negeri ini. Masing-masing orang memiliki cara tersendiri dalam merayakannya, termasuk mereka yang akan dipertemukan Allah dalam ikatan pernikahan. Bulan Syawal sering kali dikaitkan dengan pernikahan, karena banyak saudara, kerabat, dan rekan yang melangsungkan pernikahan di bulan ini. Hal ini tidak lepas dari sunnah Rasulullah ﷺ:
Dari Aisyah r.a., beliau berkata:
"Rasulullah ﷺ menikahiku pada bulan Syawal dan mengadakan malam pertama pada bulan Syawal. Istri Rasulullah mana yang lebih beruntung ketimbang diriku di sisi beliau?" (HR Muslim).
Menjajaki fase baru dalam hidup bukanlah hal yang mudah, begitu pula saat memasuki masa-masa persiapan pernikahan. Berikut adalah beberapa hal yang perlu dipahami sebelum melangkah ke jenjang pernikahan:
1. Menyatukan Sepasang Manusia Beserta Keluarganya
Bagi sebagian orang, pernikahan hanya dianggap sebagai hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Penulis setuju dalam beberapa aspek, seperti prinsip pernikahan yang akan dijalani, visi dan misi, serta tujuan yang ingin dicapai. Namun, dalam banyak hal, suka atau tidak suka, selalu ada peran keluarga di dalamnya.
Misalnya, dalam hal budaya keluarga saat hari raya. Sungkeman bukanlah tradisi di keluarga penulis, tetapi merupakan budaya yang dijalankan di keluarga istri. Perbedaan budaya seperti ini menuntut adanya kompromi. Jika boleh jujur, penulis merasa canggung saat pertama kali melakukan sungkeman. Namun, alhamdulillah, kini penulis mensyukuri pengalaman tersebut dan menjadikannya bagian dari budaya keluarga kecil kami.
Pengaruh keluarga dalam pernikahan tidak hanya sebatas hal-hal positif, tetapi juga bisa membawa tantangan. Oleh karena itu, dalam masa penjajakan dan persiapan pernikahan, penting untuk memahami nilai-nilai serta prinsip hidup masing-masing keluarga. Bukan untuk mencari perbedaan, tetapi untuk berkompromi pada titik-titik yang diperlukan.
2. Ibadah Sepanjang Masa Membutuhkan Ilmu
Ketika kalimat akad terucap dan dinyatakan sah, itulah momen paling sakral dalam kehidupan. Dengan akad tersebut, Allah menghalalkan seseorang yang sebelumnya haram bagimu dan menyempurnakan agamamu. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
"Apabila seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah kepada Allah pada separuh yang lainnya." (HR Al-Baihaqi).
Pernikahan memiliki konsekuensi yang besar dan harus dijalani dengan ilmu. Berikut beberapa ilmu yang perlu dipersiapkan:
a) Ilmu Pengelolaan Diri dan Emosi
Penulis pernah mendengar kisah seorang anak yang meminta izin kepada ayahnya untuk menikah. Sang ayah berkata, "Mintalah maaf kepadaku sekarang." Anak itu bingung dan bertanya, "Kenapa? Apakah aku melakukan kesalahan?" Sang ayah mengulangi ucapannya, "Mintalah maaf kepadaku sekarang." Setelah anak itu bertanya berulang kali, akhirnya sang ayah menjawab, "Dalam pernikahan, terkadang kita harus meminta maaf tanpa tahu kesalahan kita."
Kisah ini menyadarkan penulis bahwa kesabaran, pengelolaan diri, dan emosi adalah kunci utama dalam keberhasilan pernikahan. Ilmu ini juga berperan penting dalam pengelolaan keuangan. Banyak orang yang kurang sabar dalam mencapai tujuan, sehingga memilih alternatif yang kurang matang dan berisiko menjadi beban di masa depan.
b) Ilmu Komunikasi
Komunikasi yang baik adalah fondasi utama dalam pernikahan. Kurangnya pemahaman terhadap pola komunikasi yang sehat sering kali menjadi penyebab konflik rumah tangga. Oleh karena itu, penting untuk memahami karakter dan pola pikir pasangan. Pria dan wanita memiliki cara berpikir serta berekspresi yang berbeda. Memahami perbedaan ini akan membantu menciptakan komunikasi yang lebih efektif dan harmonis.
c) Ilmu Kesehatan
Menjaga kesehatan fisik dan mental sebelum serta selama pernikahan sangatlah penting. Pemahaman tentang kesehatan reproduksi, pola hidup sehat, serta menjaga kebersihan diri dan pasangan akan membantu menciptakan rumah tangga yang bahagia. Selain itu, kesehatan mental juga harus diperhatikan agar pasangan dapat saling mendukung dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
d) Ilmu Agama
Pernikahan bukan sekadar ikatan duniawi, tetapi juga ibadah yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab. Oleh sebab itu, pemahaman tentang hak dan kewajiban suami-istri dalam ajaran agama menjadi hal yang wajib dikuasai. Ilmu ini mencakup bagaimana membangun rumah tangga yang berkah, memahami peran masing-masing, serta menjalani kehidupan pernikahan sesuai dengan syariat.
Penutup
Menikah bukan sekadar menyatukan dua insan, tetapi juga menyatukan dua keluarga dengan latar belakang yang berbeda. Semakin banyak ilmu yang dipersiapkan sebelum menikah, semakin besar peluang untuk menjalani pernikahan yang harmonis dan penuh keberkahan.
Wallahu a'lam bishawab" (وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ)
Hermawan Sulistio
Comments
Post a Comment