Hello, Assalamualaikum my lovely readers. sudah lama sekali ya cerita ini mangkrak hehe, kebetulan bloger paruh waktu ini lagi senggang banget sambil nunggu sidang. btw author mau UAS nih, doakan jadi the last UAS yaa dan lulus semster 7 ini. jangan lupa komentar dan subscribe (emg blog ada subscribe ya?) hehe
BAB II: Pulang untuk Menjemput
Pagi itu Queenslan
begitu dingin. Musim semi mulai menunjukan batang hidungnya. Suara mesin mobil
yang sedang dipanaskan sedari tadi menemani instrumen bagpipes. Zaky memang menyukai musik-musik instrumen, bagpipes salah satu favorit nya semenjak
dia menonton film Brave Heart, suaranya khas dan penuh semangat. Selalu ada
keinginan dalam hatinya untuk menjejakkan kaki di Eropa untuk mendengarkan live instrumen bagpipes langsung dari musisi asal negerinya.
“Mas, terima kasih
banyak ya! Selama ini sampean sudah banyak bantu kami” Ridwan
“iya, tenang saja.
sudah jadi kewajiban saya sebagai yang tertua untuk selalu menjaga kalian”
jawab Zaky
“Iya mas, sampean
juga sudah sangat berjasa bagi muslim minoritas di sini semenjak kejadian itu”
ujar Ghani
“saya tidak
melakukan apa-apa, semua itu atas kehendak Allah Ghan, Wan. Lagi pula sudah
jadi kewajiban kita sebagai umat muslim untuk berdakwah kan?” kata Zaky
“ah kau ini mas
terlalu merendah, jarang banget saya ketemu orang kaya kau ini” Gery, dengan nada khas medan nya.
“haha, bisa saja
kamu. Tetapi yang harus diingat sampean semua di sini sebagai umat muslim punya
peran juga sebagai pendakwah. Saat ini masyarakat dunia sedang salah menerima
informasi tentang Islam yang sebenarnya. Maka dari itu sampean wajib untuk
memperbaiki pandangan mereka terhadap Islam. Setidaknya di mulai dari
lingkungan Blok rumah kita atau teman-teman di kampus kita. Tidak perlu dengan
hal yang besar cukuplah menjadi pribadi yang santun, ramah dan peduli
insyaAllah sisanya Allah yang gerakan hati mereka, iya gak?” Jelas Zaky
“wah mantap
pagi-pagi udah dapat feed positif nih
dari al- Ustad
Zaky”
“hahahaha” semua
orang yang ada di sana tertawa penuh suka cita dan mereka berangkat menuju
bandara mengantar kepulanga Zaky.
“aku pamit ya. Baik-baik kalian di sini”
“iya mas, maafin
kami banyak salah dan sering repotin sampean”
“sudah-sudah,
tidak apa-apa”
“hati-hati ya mas
Zak”
“nanti kalau ke sini
lagi kami boleh minta sesuatu mas?”
“whaha minta
oleh-oleh? Mau opo to?
“bukan oleh-oleh.
bawa Istri mas”
“iya mas! Haha”
“walah sampean ini
ada-ada saja”
“soalnya kalau mas
ke sini lagi kita kan sibuk, jadi gak ada yang urusin mas jadi sampean kayanya
perlu Istri mas, biar ada yang urusin, haha”
“memangnya sampean
pikir selama ini aku di urus siapa? Sendiri kah haha”
“yaa jangan
sendiri mulu mas, harus ada peningkatan. Yaa setidaknya pas kesini separuh
agama sampean sudah disempurnakan oleh fulanah nan cantik shalihah”
“hush, kalian ini
ya bisa-bisanya di waktu-waktu terakhir iseng sama saya”
“haha, yowes mas
pokone sing ati-ati yo. Salam untuk keluarga di Indonesia”
“iyo, InsyaAllah
di sampaikan, kalian juga yo apik-apink nang kene”
“iyo mas”
“aku pamit,
Assalamualaikum”
Pelukan hangat dari
sahabat seperjuangan di negeri rantau melepas kepulangan Zaky. Pesawat telah
menunggunya, mengantar ke negeri kelahirannya.
***
“bu. Ibu itu mas
Zaky bu!” teriak Dinda
“mana nak?” tanya ibu
“itu bu! Mas Zaky
Mas Zaky!” teriak Dinda menghampiri
“kamu? Siapa?”
bingung Zaky dengan mimik muka bingung
“aku mas Dinda!”
“siapa? Dinda?
Sebentar saya ingat-ingat dulu”
“ih mas! Aku
Dinda, Adik mas, YaAllah gara-gara kelamaan di luar negeri sampai lupa sama
adiknya?
“haha jangan marah
dong dik. Mas cuman pura-pura kok haha”
“ih nyebelin”
“masya Allah ada
yang marah. Mana mungkin mas melupakan adik mas yang satu ini? Yang kerjanya
ngempeng itu haha”
“ih tau ah, ayo
mas kita ke Ibu”
“Assalamualaikum
Ibu, ibuu apa apa kabar? Ibu sehat-sehat aja kan? Zaky memeluk Ibunya erat.
“alhamdulillah
anak ku sudah sampai. Terima kasih gusti Allah. Iya nak ibu baik-baik saja,
kamu juga baik-baik saja kan”
“alhamdulillah bu,
ga ada yang lebih baik selain kondisi seorang anak yang bersama ibunya”
“Abi,
Assalamualaikum Abi! Abi kabar bagaimana? Zaky sambil memeluk Abi
“Alhamdulillah nak
baik-baik saja. ayo kita langsung saja kasihan kamu pasti lelah di perjalanan”
***
“Assalamualaikum,
Mamak – Papah, apa kabar” sapa Adiba melalui Skype
“Waalaikumussalam
nak, Alhamdulillah mamak papah baik-baik saja. ba’a kabar anak ku cantik?
“Alhamdulillah
baik-baik ma, keluarga bagaimana ma?”
“Insya Allah
baik-baik, hampir sepekan tetangga kita, pak Nasihin meninggal nak”
“Innalillahi,
semoga Allah terima Amal ibadah beliau ya mak”
“Ammin, oya teman
SD kamu, Bujang kemarin baru saja menikah dia. Ternyata jodohnya si Putri yang
sering dia buat nangis waktu kecil”
“wah serius mak? Lucu
sekali ya mak. Kadang kita tidak tau ya arah datang nya Jodoh hehe”
“iya nak semua
serba kejutan. Ada apa nak? Ada yang ingin disampaikan?
“hem..”
“kenapa diam nak,
macamnya ada sesuatu yang besar ni yan ingin di sampaikan putri ku? Papah
“iya pah, kemarin
ada seorang laki-laki nak melamar ku, pria baik, shalih dan mandiri”
“tuh mak dengar,
putri kita sudah dewasa mak. Alhamdulillah nak, lantas ada apakah yang papah
dan mamak bantu?”
“pria itu sudah
pulang ke Indonesia, niatnya ingin bertemu mamak dan papah. Mohon di terima
kehadirannya mak pah.
“Insya Allah nak. Sudah
kewajiban kita kan sebagai umat muslim untuk memuliakan tamu. Tapi kamu sendiri
siap kah nak?”
“belum tau mak pah”
“ya tidak perlu
terlalu di khawatir, minta petunjuk sama Allah, solat istikharah nak”
“iya mak. Insya Allah doakan Diba ya mak”
“selalu nak. Ya sudah ada nak ingin
sampaikan lagi sayang?
“sudah maa. Aku kangen
mamak dan papah. Assalamualaikum”
“waalaikumussalam
sayang ku, baik-baik dinegeri orang”
“iya mak, pah”
Selesai skype-an
dengan orang tuanya, sedikit lega yang dirasakan oleh adiba. Perasaan deg-degan
seorang wanita yang dilamar begitu jelas terlihat. Bayang nya selalu indah. Masya
Allah indahnya pernikahan bagi setiap insan yang telah siap.
***
Roda mobil
berputar melewati sudut-sudut kota. Sampailah di kota kelahirannya, Bogor. Seorang
berdarah Jawa namun lahir dan besar di kota hujan. Banyak perubahan yang telah
terjadi di kota kelahirannya. Makin cantik, ya jelas semakin nyaman semenjak 5
tahun lalu. Menjadi kota yang di cintai penduduk nya, semakin humanis dan memanusiakan
manusia. Aah begitu segar udaranya.
***
“Mass bangun mas!”
teriak Dinda lalu menggedor-gedor Pintu.
“iya-iyaa dee,
jangan gedor-gedor dong”
“abiis mas nya
lama banget nyautnya haha”
“heem nakal yaa
sini mas jewer sini”
“larii, buu Mas
nya mau jewer Dinda” adu Dinda.
“ehh udah-udah ayo
sarapan dulu sini cepet” potong Ibu.
“tuh denger nakal
sih, marahin nih bu” Zaky
Pagi itu begitu
hangat. Potongan puzzle yang telah lama pergi kini kembali kali ke bagiannya. Mengisi
ruang kosong yang menyatukan keluarga kecil itu. Hangat, di tambah waktu tea
time yang begitu mesra. Kebetulan sedang libur. Dinda sanat ceria sekali. Usianya
terpaut 6 tahun dari Zaky. Saat ini Zaky berusia 23 Tahun, di umurnya yang
terbilang muda dia telah menyelesaikan master nya di luar negeri dan
matang secara pemikiran. Dia memang cerdas beberapa kali dia melakukan akselerasi di
sekolahnya sehingga bukan tidak mungkin dia bisa menyelesaikan study master nya di umur yang terbilang muda.
***
Tea time di tandai
dengan suguhan teh dandang khas Wonogiri.
Entah kami sekeluarga menyukainya. Kuat dan menggetarkan pagi yang amat dingin.
Kalau Dinda pasti di campur susu. Katanya lebih nikmat.
“Dek masuk kedalam
dulu ya, mas mau ngobrol sama papah”
“hayo mau
ngobrolin apa nih? Masa depan ya? Dinda pengen punya keponakan dong mas!”
“hush masih kecil sudah sok tau yaa, hus hus
sana-sana”
“iyaiyaa haha”
“bagaimana Ky? Rencana-rencana kamu ke depan?”
“eh bi, rencana ke depan Zaky mau coba cari
pekerjaan dulu bi sambil mengarut bisnis-bisnis yang ada di Aussie”
“kan kamu sudah
ada usaha, kok masih
mencari pekerjaan?”
“InsyaAllah
semuanya cukup bi, Zaky merasa perlu mengaplikasikan ilmu yang Zaky miliki,
sebagai bentuk penghargaan Zaky kepada guru yang telah mengajari zaky”
“ya sudah kalau menurut kamu
baik abi pasti dukung. Rencana kamu ingin bekerja di mana?”
“kemarin pak
menteri ekonomi hadir di acara PPI Aussie, dan kebetulan Zaky cukup dekat dan
di minta untuk menjadi staff ahli di badan ekonomi kreatif”
“oh yasudah kalau
begitu, Abi dukung, ada lagi yang mau di bahas?”
“em, emm
sepertinya sudah bi.”
Ragu hari Zaky
saat ingin membahas tentang
niatnya untuk menikah. Ya dia hanya ingin menjaga atmosfer kekeluargaan dulu
dengan tidak membahas hal-hal besar. Seruput teh membangunkan Zaky dari
duduknya dan menuju ke dapur. Nampak Dinda dan Ibunya sibuk di sana.
“wah lagi apa nih?
Sibuk banget? Ibu lagi cari apa bu?”
“hem apa yaa? Kok gak ketemu-ketemu ya nak? Jawab
Ibu.
“cari apa? Biar Zaky
bantu? Sampe se heboh
ini.
“kamu mau bantu?
Ibu lagi lagi cari menantu nak”
“lah ibu bisa aja
bercanadanya hehe”
“mas Dinda ga
ditanya lagi cari apa?
“Dinda cari apa?”
“cari keponakan
mas hahaha” tawa Dinda
“heem awas yaa!”
***
Makan malam tiba,
suasana hangat keluarga seperti
ini yang selalu Zaky rindu. Hampir 6 tahun lamanya dia tidak merasakan hal seperti
ini bersama keluarga. Sungguh momen yang amat berharga bagi nya dan kelaurga
nya. Terkadang meja makan menjadi tempat sakral tersendiri untuk membahas
hal-hal lucu tentang 1 hari yang telah terlewati hingga hal-hal besar di
keluarga, pun dengan makan malam kali ini.
“abi, ibu, Zaky
mau ngobrol sebentar”
“Dinda di usir
lagi gak nih?”
“engga kok de,
kalau kamu mau di sini gak apa-apa kok” senyum khas sembari mengusap kepalanya
Dinda.
“eh jangan deh aku
masih kecil, aku cuci piring aja
ya”
“ada apa Ky?”
“Abi, Ibu, insya Allah tahun ini Zaky
sudah mantap untuk menikah, abi sudah menentukan calon saat di UQ, Zaky bertemu
dengan nya saat kajian rutin Indonesian Society di UQ dan (MSA UQ). insyaAllah
melalui syaikh Abdullah Azzam saya sudah menyampaikan niat dan dia minta saya
mendatangi orang tuanya di Indonesia, dan Isya Allah akhir bulan ini
saya hendak pergi menemui orang tua nya. Zaky harap Ibu dan
Abi bisa ikut dan merestui”
“yey! Akhirnya! Bu
Kode-kode kita sukses ya ternyata” teriak Dinda sambil meloncat menghampiri Abi
dan ibunya.
“loh jadi kalian bersekongkol nih ceritanya?”
“iya dong, Dinda
bakalan punya kaka Ipar dong ya? Dan bakalan punya keponakan?
“sudah-sudah
Dinda, kasihan
mas nya
kamu ejek terus. Lanjut lagi ya cuci nya. Abi
“alhamdulillah
kalau kamu sudah memutuskan untuk menikah, ya memang itu harapan Ibu dan Abi. Sebab
umur kamu sekarang ya sudah
sedang-sedang nya
untuk menikah, nak.
“lho sedang-sedang
nya? Aku malah khawatir Abi sama Ibu mengira itu kecepatan dan terlalu muda?”
“tidak lah, sudah
saatnya kita menghapuskan stereotip di masyarakat tentang menikah yang harus di
umur yang terbilang tua. Abi mendukung kamu di umur 23 ini kamu sudah ada niat menikah.
Yang penting secara financial dan mental kamu sudah siap. Jadi abi hanya bisa
mendukung saja, toh menikah itu kan ibadah masa abi halang-halangi anak abi
untuk ibadah?”
“terima kasih abi ibu, insyaAllah
aku akan persiapkan segalanya agar lebih matang lagi”
Malam itu begitu
ceria, satu batu pengganjal hatinya telah hilang. Keinginan nya untuk
menyempurnakan separuh agama nya
telah tersampaikan.
Bersambung...
InsyaAllah akan saya lanjutkan, doakan semoga bisa melanjutkan yaa..
jangan lupa Follow
IG: hermawansulistio13
FB: Hermawan Sulistio
Line: hermawansulistio
jangan lupa berikan kritik serta sarannya di kolom komentar ya :)

Yuhuu dilanjutin. mantap kak tio! semangat terus lanjutin ceritanya sampe abis. jgn lama-lama ya ok!
ReplyDelete